Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Januari 2012

Profil Lengkap Zinedine Zidane - Pemain Legendaris


Kali ini kami ingin menyajikan Profil Pemain Legendaris  yaitu Zinédine Zidane. Zinédine Zidane, para pecinta bola diseluruh dunia, sudah pasti mengetahui Pemain yang aksinya sempat heboh, ketika menyundul dada Bek Timnas Italia Marco Materazzi, ketika Perancis bertemu Italia di Final Piala Dunia 2006. Zidane adalah salah satu Legenda Hidup sepakbola Perancis, yang sampai saat ini masih aktif di dunia sepakbola, namun bukan sebagai Pemain, karena Zidane telah menyatakan Pensiun dari Timnas Perancis usai Piala Dunia 2006. Ketika masih menjadi pemain, Zidane sempat bermain untuk beberapa Klub besar sekelas Juventus dan Real Madrid. Pemain yang memiliki nama lengkap Zinedine Yazid Zidane ini, lahir di Marseille, France, 23 Juni 1972. Bagi anda penggemar Zinedine Zidane, ingin mengetahui Profil, Perjalanan Karir, Penghargaan yang pernah diraih, Kehidupan Pribadi, dan Biografi lengkap dari pesepakbola keturunan Aljazair ini. Berikut Profile dan Biography lengkap dari Zinedine Zidane.


Profil Dan Biodata Lengkap Zinedine Zidane



Informasi Pribadi

Nama lengkap : Zinedine Yazid Zidane
Tanggal kelahiran : 23 Juni 1972 (umur 38)
Tempat kelahiran : Marseille, France
Tinggi : 1.85 m (6 ft 1 in)
Posisi bermain : Gelandang Serang

Karier junior

1982–1983 US Saint-Henri
1983–1987 SO Septèmes-les-Vallons
1987–1988 Cannes

Karier senior

Tahun Tim Tampil (Gol)
1988–1992 Cannes 61 (6)
1992–1996 Bordeaux 139 (28)
1996–2001 Juventus 151 (24)
2001–2006 Real Madrid 155 (37)

Tim nasional

1994–2006 France 108 (31)

Profil Pemain

Zinedine Yazid Zidane , Zainuddin Zidan lahir 23 Juni 1972; umur 38 tahun) yang terkenal dan populer dengan panggilan Zizou adalah seorang pesepak bola Perancis keturunan Aljazair. Posisinya adalah gelandang menyerang. Memulai karier sebagai pemain di klub AS Cannes, ia kemudian bermain di Bordeaux, Juventus dan terakhir Real Madrid. Ia pensiun dari sepak bola klub pada tahun 2006 dan pensiun dari tim nasional sepak bola Perancis setelah Piala Dunia 2006. Ia juga sempat memegang rekor sebagai pemain termahal di dunia saat di transfer dari Juventus ke Real Madrid pada musim 2001-02 dengan nilai 46 juta poundsterling.

Sebagai pesepak bola kelas dunia, Zidane telah mengenyam banyak prestasi, diantaranya dua gelar Serie-A bersama Juventus, satu gelar Liga Champions Eropa dan satu gelar La Liga bersama Real Madrid. Zidane juga sukses mengantar Perancis menjadi juara dunia Piala Dunia 1998 dan juara Piala Eropa 2000. Bersama sahabatnya Ronaldo, Zidane menjadi pemain sepak bola yang mampu meraih gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA sebanyak tiga kali. Ia juga pernah meraih Ballon d'Or di tahun 1998.

Perjalanan karier

Zidane dilahirkan di Marseille dan dibesarkan di La Castellane. Walaupun lahir di Marseille, Zizou belum pernah bermain untuk Olympique de Marseille. Orang tua Zidane beragama Muslim, dan mereka berimigrasi dari Aljazair ke Perancis pada tahun 1954.

Karier Zidane dimulai pada usia 14 tahun, anak dari imigran Aljazair ini terlihat oleh seorang pencari bakat bernama Jean Varraud dan kemudian ditawari tempat di Akademi AS Cannes. Aslinya ia hanya mendapatkan kesempatan bertahan di Cannes selama enam pekan saja, sebelum akhirnya bakat bagusnya membuat Zidane mampu mengamankan kontrak pertamanya selama empat musim. Zidane kemudian bermain di level professional pertama pada usia 17 tahun di tahun 1991. Ia kemudian mencetak gol pertamanya pada tanggal 8 Februari 1991, yang kemudian membuatnya mendapatkan hadiah mobil dari presiden klub. Zidane kemudian berhasil mengantar Cannes masuk kompetisi Piala UEFA di akhir musim 1991-92.

Zidane kemudian ditransfer ke Girondins de Bordeaux pada musim 1992-93, dan kemudian mengantar klub tersebut menjuarai Piala Intertoto musim 1995 dan runner-up Piala UEFA musim 1995-96. Rekannya di Bordeaux adalah Bixente Lizarazu dan Christophe Dugarry, yang kemudian kelak akan menjadi trio kuat di timnas Perancis pada Piala Dunia 1998. Pada musim 1995, pelatih Blackburn Rovers Ray Harford sempat menawarkan kontrak pada Zidane dan Dugarry, namun Zidane menolak tawaran dari klub Inggris tersebut.

Pada tahun 2001 Zizou ditransfer dari klub Italia, Juventus F.C. ke Real Madrid dengan kontrak selama 4 tahun. Biaya transfer sebesar €66 juta, membuat ia menjadi pemain sepak bola dengan transfer termahal di dunia. Ia mencetak gol kemenangan 2-1 melawan klub Jerman, Bayer Leverkusen pada 2001-2002 Final Champions League di Glasgow di Hampden Park. Tahun berikutnya di Piala Dunia 2002 ia hanya tampil sekali membela Perancis karena didera cedera. Dalam turnamen tersebut, Perancis tidak berhasil mencetak satu golpun dan terpuruk di dasar grup pada babak pertama sehingga gagal lolos ke babak berikutnya.

Tahun 2004 setelah Piala Eropa 2004 berakhir, Zidane pensiun dari sepak bola internasional, namun saat Perancis mengalami kesulitan untuk meloloskan diri ke Piala Dunia 2006, Zidane mengumumkan pada Agustus 2005 bahwa ia akan kembali bermain di tim nasional. Perancis akhirnya lolos, tetapi Zidane yang baru melalui musim yang dipenuhi cedera di Madrid, memutuskan bahwa ia akan mundur setelah Piala Dunia tersebut berakhir.

Pada tanggal 25 April 2006, Zizou secara resmi mengumumkan keputusannya untuk mundur dari klub dan tim nasional sepak bola Perancis setelah Piala Dunia 2006.
Pada tanggal 7 Mei 2006 Zizou memainkan pertandingan terakhir sebagai tuan rumah untuk Real Madrid di Stadion Santiago Bernabéu. Pemain Real Madrid memakai baju kaos khusus yang bertanda "ZIDANE 2001 - 2006" tertulis di bawah logo klub. Seperti yang dapat diduga, pendukung Real Madrid memberikan dia sambutan yang hangat dan mendukung Zizou sepanjang pertandingan. Pertandingan ini melawan Villarreal CF dan, sayangnya untuk Zizou, hasil terbaik yang diperoleh Real Madrid adalah seri 3-3. Zizou mencetak gol kedua untuk Real Madrid tanpa perayaan besar-besaran. Zizou menukar baju kaosnya dengan Juan Roman Riquelme, pemain Villarreal CF dan gelandang Argentina. Pada akhir pertandingan, pendukung Real Madrid mengucapkan selamat jalan untuk Zizou dengan memberi ia tepuk tangan panjang, yang membuatnya menitikkan air mata.

Piala Dunia 2006


Pada dua pertandingan awal Piala Dunia 2006, ia tampil buruk dan bahkan harus absen pada pertandingan ketiga akibat akumulasi kartu kuning. Zidane kemudian menunjukkan kembali permainan terbaiknya di babak-babak berikutnya, dimulai dari pertandingan melawan Spanyol digugurkan 3-1, lalu Brasil ditaklukkan 1-0, dan kemudian Portugal dikalahkan 1-0. Dengan bentuk permainannya saat itu, banyak yang berharap bahwa Zidane akan menggantung sepatu dengan indah dengan mengalahkan Italia di final, namun kariernya berakhir pahit saat ia dikartu merah wasit Horacio Elizondo pada pertandingan final akibat menanduk bek Italia, Marco Materazzi di bagian dada.

Walaupun karier sepak bolanya berakhir pahit Zidane terpilih sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2006 versi Fédération Internationale de Football Association dan para wartawan yang meliput ajang tersebut dengan mendapat 2012 poin, kapten Italia Fabio Cannavaro di posisi dua dengan 1977 poin dan pemain Italia lainnya, Andrea Pirlo di posisi tiga dengan 715 poin. Alasan ia dipilih menjadi pemain terbaik karena berhasil menampilkan penampilan yang menawan serta menunjukkan kepemimpinan yang baik dalam membawa Perancis yang terseok-seok di babak penyisihan grup sampai ke babak final. Pelatih Perancis Domenech dan sang "Kaisar" Beckenbauer membela keputusan FIFA untuk tetap memberikan gelar tersebut meskipun Zizou dianggap melakukan tindakan bodoh tersebut terhadap Materazzi. Materazzi mungkin dianggap mengatakan kata-kata yang sangat menyinggung pemain terbaik dunia 3 kali tersebut sehingga membuat ia menjadi emosi dan akhirnya melakukan tindakan tersebut.

Menurut laporan BBC, pemilihan Pemain Terbaik dilakukan pada masa istirahat setelah babak pertama. Koresponden BBC, Gordon Farquhar, berpendapat bahwa "jika kita menanyakan kepada para wartawan yang telah melakukan pemilihan tersebut setelah pertandingan berakhir - apakah mereka akan mengubah suaranya - mungkin mereka akan melakukannya."

Lagu berjudul Headbutt yang terinspirasi dari serudukan kepala Zinedine Zidane ke dada Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006 menjadi lagu yang paling terkenal di Perancis. Dalam dua setengah pekan awal, ada 80.000 pengunduh lagu tersebut di situs.

Gaya Bermain

Setelah penampilan yang sangat fantastis di Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, tidak sedikit publik sepak bola yang menganggapnya sebagai pemain terbaik di dunia. Kelebihan dan keahliannya melakukan dribbling dan penguasaan bola sering membuat pemain lawan merasa frustasi karena sulitnya merebut bola darinya. Pelatih-pelatihpun beranggapan bahwa memaksakan man-to-man marking terhadap Zidane adalah pekerjaan sia-sia. Bahkan produsen olahraga asal Jerman Adidas membuat "formasi baru" yakni 4-Zidane-2.

Gelar yang diperoleh

Zidane, pemain yang telah memenangkan semua kejuaraan bergengsi di dunia, adalah seorang juara sejati. Gelar yang telah dia persembahkan kepada Perancis dan klubnya antara lain:

* Piala Dunia (1998)
* Piala Eropa (2000)
* Liga Champions (2001/2002)
* Piala Toyota (1996, 2002)
* liga domestik:
o Seri A (1996/1997, 1997/1998)
o La Liga (2002/2003)
* Runner Up Piala Dunia (2006)

Zidane tiga kali terpilih sebagai Pemain Terbaik Dunia (1998, 2000, 2003) dan sekali sebagai Pemain Terbaik Eropa (1998) serta sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 2006.

Demikian sekilas mengenai Profil dan Biografi Zinedine Zidane, yang kami sajikan lengkap dengan Fotonya
Print Friendly and PDF
Sabtu, 14 Januari 2012

BIODATA HERNAN CRESPO

Hernán Crespo
Hernan.png
Informasi pribadi
Nama lengkap Hernán Jorge Crespo
Tanggal lahir 5 Juli 1975 (umur 36)
Tempat lahir Florida, Argentina
Tinggi 1.84 m (6 ft 0 in)[1]
Posisi bermain Striker
Informasi klub
Klub saat ini Parma
Nomor 9
Karier senior*
Tahun Tim Tampil (Gol)
1993–1996 River Plate 62 (24)
1996–2000 Parma 116 (62)
2000–2002 Lazio 54 (39)
2002–2003 Inter 17 (7)
2003–2008 Chelsea 49 (20)
2004–2005 Milan (pinjaman) 28 (11)
2006–2008 Inter (pinjaman) 49 (18)
2008–2009 Inter 14 (2)
2009–2010 Genoa 16 (5)
2010– Parma 42 (10)
Tim nasional
1995–2007 Argentina 64 (35)
1996 Argentina U23 6 (6)
* Penampilan dan gol di klub senior hanya dihitung dari liga domestik dan akurat per 22 Mei 2011.

‡ Penampilan dan gol di tim nasional akurat per 1 Maret 2009
Hernán Jorge Crespo (lahir di Florida, Argentina, 5 Juli 1975; umur 36 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Argentina yang bermain bagi Parma di Seri A, berposisi sebagai striker.
Crespo telah mencetak lebih dari 300 gol sepanjang perjalanan kariernya. Beberapa prestasi yang telah ia raih antara lain, medali perak Olimpiade Atlanta 1996, Copa Libertadores, sebuah gelar juara Liga Primer Inggris, dan tiga Scudetto Seri A. Ia menjadi top skor Seri A musim 2000-01 dengan 26 gol saat membela Lazio. Crespo bahkan pernah memegang rekor transfer pemain termahal dunia setelah bergabung dengan Lazio dari Parma pada bulan Juli 2000.

Karier klub

Crespo memulai karier profesional di River Plate pada musim 1993-94. Ia berhasil mencetak 13 gol dalam 25 kali penampilan. Crespo membawa River meraih gelar Apertura pada tahun 1993, 1994, dan kemudian Copa Libertadores 1996. Pada Agustus 1996, ia pindah ke Parma setelah menyelesaikan turnamen sepak bola di Olimpiade Atlanta 1996 sebagai pencetak gol terbanyak dengan 6 gol. Di Parma ia berhasil memperoleh gelar Piala Italia dan Piala UEFA pada musim 1998/1999, serta membawa Parma ke peringkat kedua Seri A pada tahun 1997.
Empat tahun di Parma, pada tahun 2000 Crespo dibeli Lazio seharga £35,5 juta, menjadi pemain termahal di dunia saat itu.[2] Musim pertama di Lazio Crespo menjadi pencetak gol terbanyak di Seri A dengan 26 gol. Tahun 2002, ia pindah ke Inter Milan dengan harga 40 juta.[3] Setahun kemudian, Crespo pindah lagi, kali ini ke Chelsea dengan harga transfer £16,8 juta.[4] Namun musim pertama ia lalui dengan kekecewaan, di mana ia hanya mencetak 12 gol dalam 31 kali penampilan dalam semua kejuaaran (19 kali di Liga Utama). Saat José Mourinho menjadi pelatih Chelsea musim berikutnya, Crespo dipinjamkan ke A.C. Milan. Di sana ia kembali menemukan permainan terbaiknya dan mencetak 10 gol, termasuk dua gol saat A.C.Milan dikalahkan Liverpool pada final Liga Champions UEFA 2004-05.[5]
Musim 2005-06 Crespo kembali ke Chelsea. Di pertandingan pertamanya bersama Chelsea musim tersebut, Crespo membawa Chelsea menjuarai Community Shield 2005 setelah mengalahkan Arsenal 2-1.[6] Hingga akhir musim ia berhasil membuat 10 gol dari 30 kali penampilan di Liga Primer dan membawa Chelsea meraih gelar juara Liga Primer Inggris.
Musim 2006-07 Crespo kembali di pinjamkan, kali ini ke Inter Milan selama dua tahun. Pada 2 Juli 2008, Chelsea mengumumkan secara resmi melepas Crespo setelah masa kontraknya berakhir.[7] Crespo kemudian menandatangi kontrak berdurasi satu tahun bersama Inter Milan.
Musim 2009-10, Crespo kembali ke Parma, klub yang pernah dibesarkannya dengan mempersembahkan trophy Piala Italia dan Piala UEFA. Dengan kembalinya Crespo ke Parma, Crespo masih menyimpan harapan akan dipanggil Maradona yang saat itu melatih timnas Argentina untuk berlaga di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Karier internasional

Crespo melakukan debut di tim nasional sepak bola Argentina pada Februari 1995. Sejak saat itu ia telah memperkuat Argentina di Piala Dunia FIFA 1998, 2002 dan 2006.

Perjalanan karier

Print Friendly and PDF

BIODATA LOTHAR MAATTHAUS

Lothar Matthäus
Lothar Matthäus.jpg
Informasi pribadi
Nama lengkap Lothar Herbert Matthäus
Tanggal lahir 21 Maret 1961 (umur 50)
Tempat lahir Erlangen, Jerman Barat
Tinggi 1.74 m (5 ft 9 in)
Posisi bermain Gelandang, Pemain bertahan, Sweeper
Karier junior

FC Herzogenaurach
Karier senior*
Tahun Tim Tampil (Gol)
1979–1984
1984–1988
1988–1992
1992–2000
2000
Borussia M'Gladbach
FC Bayern Munich
Internazionale
FC Bayern Munich
MetroStars
162 (36)
113 (57)
115 (40)
189 (28)
016 0(0)

Tim nasional
1980-2000 Jerman 150 (23)
Kepelatihan
2001–2002
2002–2003
2003–2005
2006
2006–2007
2008-
SK Rapid Wien
Partizan Belgrade
Hongaria
Atlético Paranaense
FC Red Bull Salzburg
Maccabi Netanya
* Penampilan dan gol di klub senior hanya dihitung dari liga domestik .
Lothar Herbert Matthäus (lahir di Erlangen, Jerman Barat, 21 Maret 1961; umur 50 tahun) adalah seorang mantan pemain sepak bola berkebangsaan Jerman. Dia membawa Jerman menjadi juara Piala Eropa 1980, Piala Eropa 1996 dan Piala Dunia FIFA 1990. Dia pernah membela klub Borussia M'Gladbach, FC Bayern Munich, Internazionale, FC Bayern Munich, dan MetroStars. Dia kini melatih klub Maccabi Netanya. Di tim nasional Jerman dia bermain 150 kali dan mencetak 23 gol. Sekarang ia melatih tim nasional Hungaria.

Gelar

Print Friendly and PDF

BIODATA ANDRIY SHEVCHENKO

Andriy Mykolayovych Shevchenko (bahasa Ukraina: Андрій Миколайович Шевченко, lahir di Dvirkivschyna, Uni Soviet, 29 September 1976; umur 35 tahun); juga akrab dipanggil Sheva adalah seorang pemain sepak bola asal Ukraina yang bermain sebagai striker untuk Dynamo Kyiv dan tim nasional Ukraina.
Shevchenko pernah bermain untuk Milan dan Chelsea. Ia adalah pencetak gol ketiga terbanyak dengan 67 gol di belakang Filippo Inzaghi dan Raúl dalam kompetisi klub sepak bola Eropa. Shevchenko telah mencetak 175 gol bagi Milan dan merupakan pencetak gol kedua terbanyak dalam sejarah klub tersebut.[1] Ia berhasil meraih gelar juara Liga Champions UEFA bersama Milan dan beberapa gelar domestik bersama Dynamo Kyiv dan Chelsea. Pada bulan Desember 2004, Shevchenko dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa tahun itu. Dia juga disebut oleh Pele sebagai salah satu dari 125 pesepak bola terbaik dunia yang masih hidup pada bulan Maret 2004.
Shevchenko memperkuat timnas Ukraina sejak tahun 1995. Ia telah mencatat 102 kali penampilan dan 45 gol, termasuk saat Ukraina berlaga di putaran final Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman.

Karier klub

Shevchenko memulai kariernya dengan klub Ukraina Dinamo Kyiv. Di bawah arahan Valeri Lobanovsky dia tumbuh menjadi salah satu pemain yang paling penting di klub tersebut, dengan membawa Dynamo Kyiv menjadi semifinalis Liga Champions UEFA musim 1998-99, ketika itu mereka disingkirkan oleh FC Bayern Munich. Dalam perjalanan menuju semifinal tersebut, Dynamo Kyiv mengalahkan Arsenal dan Real Madrid.
Pada tahun 1999, Shevchenko bergabung dengan Milan dengan biaya transfer sebesar $26 juta dan telah menjadi salah seorang pemain terpenting Milan. Sejak bergabung dengan Milan, dia telah dua kali meraih gelar Seri A, pada musim 1999-00, dan 2003-04. Selain itu, dia juga telah satu kali mencicipi gelar Liga Champions UEFA pada musim 2002-03. Pada Liga Champions musim 2005-06 ia mencetak sejarah sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah kompetisi klub Eropa. Ia merupakan pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah bagi Milan di belakang Gunnar Nordahl dengan 175 gol.[1]
Pada Mei 2006, Shevchenko bergabung ke Chelsea dengan rekor transfer termahal di Inggris saat itu dengan alasan bahwa ia ingin anaknya dibesarkan di lingkungan berbahasa Inggris. Kariernya di Chelsea tidak secemerlang di Milan dan ia hanya mencetak 22 gol dalam 76 kali penampilan di seluruh kompetisi, termasuk 9 gol dalam 47 kali penampilan di liga.
Pada 23 Agustus 2008, Chelsea mengumumkan persetujuan kembalinya Shevchenko ke Milan.[2]
Pada 28 Agustus 2009, Shevchenko kembali ke Dinamo Kyiv dan menandatangi kontrak berdurasi dua tahun.[ Prestasi

Dynamo Kyiv

  • Liga Primer Ukraina: 1995, 1996, 1997, 1998, 1999
  • Ukrainian Cup: 1996, 1998, 1999
  • Piala Super Ukraina: 2011
  • CIS Cup: 1996, 1997, 1998

Milan

Chelsea

Individual

  • Pemain Sepak Bola Terbaik Ukraina:[4] 1997, 1999, 2000, 2001, 2004, 2005
  • Olahragawan Terbaik Ukraina: 1999[4]
  • Commonwealth of Independent States Cup Top Scorer: 1997
  • Top Skor Liga Primer Ukraina: 1999 [4]
  • Pemain Terbaik Liga Primer Ukraina: 1997 [4]
  • Top Skor Ukrainian Cup: 1998 [4]
  • ESM Team of the Year: 1999-00, 2003–04, 2004–2005
  • Top Skor Liga Champions UEFA:[4] 1998–99, 2005–06
  • Penyerang Terbaik Liga Champions UEFA: 1999
  • UEFA Team of the Year: 2004, 2005
  • Pemain Terbaik Piala Super UEFA 2003.
  • Pemain Asing Terbaik Serie A: 2000
  • Gol Terbaik Serie A: 2004 (Roma vs. Milan, 2004) [5].
  • Top Skor Serie : 1999-00, 2003-04
  • Top Skor Sepanjang Masa Piala Super Italia
  • Pemain Sepak Bola Eropa Timur Terbaik versi Focus Vest magazine: 2001
  • Baltic and Commonwealth of Independent States Footballer of the Year: 2004, 2005
  • Ballon d'Or: 2004; tempat ketiga: 1999, 2000.
  • Pemain Terbaik Dunia FIFA: 2004 (tempat ketiga)
  • Golden Foot award : 2005
  • FIFPro World XI: 2005
  • Top Skor Sepanjang Masa Timnas Ukraina
  • Top Skor Sepanjang Masa Derby della Madonnina
  • All time Milan's Top goal scorer in Champions League
  • Top Skor Sepanjang Masa Pra-Kualifikasi Piala Dunia FIFA Zona Eropa.[6]
  • FIFA 100
  • The World Team of the Decade by Mirror Football: 2009[7]
  • AC Milan Hall Of Fame [8].
  • UEFA awards 100 caps. [9].
  • Silver Ball of the player Fair Play 2004 Serie A. [10]
  • L'Équipe Team of the Year: 2004, 2005
Print Friendly and PDF
Jumat, 13 Januari 2012

BIODATA THIERRY HENRY

Thierry Henry
Thierry Henry
Informasi pribadi
Nama lengkap Thierry Daniel Henry
Tanggal lahir 17 Agustus 1977 (umur 34)[1]
Tempat lahir Les Ulis, Essonne, Perancis
Tinggi 1.88 m (6 ft 2 in)
Posisi bermain Striker/Gelandang
Informasi klub
Klub saat ini Arsenal F.C.
Nomor 14
Karier junior
1983–1989
1989–1990
1990–1992
1992
1992–1995
CO Les Ulis
US Palaiseau
Viry-Châtillon
Clairefontaine
Monaco
Karier senior*
Tahun Tim Tampil (Gol)
1994–1998
1999
1999–2007
2007–2010
2010-kini
2012-
Monaco
Juventus
Arsenal
Barcelona
New York Red Bulls
Arsenal
105 0(20)
016 00(3)
254 (174)
080 0(35)
00 0(0)

Tim nasional
1997–2010 Perancis 123 0(51)
* Penampilan dan gol di klub senior hanya dihitung dari liga domestik dan akurat per 01:14, 25 February 2009 (UTC).

‡ Penampilan dan gol di tim nasional akurat per 01:14, 25 February 2009 (UTC)
Thierry Daniel Henry (IPA: [tjɛ'ʀi ɑ̃'ʀi], lahir 17 Agustus 1977; umur 34 tahun) adalah pemain sepak bola yang berasal dari Perancis. Henry dikenal karena kecepatannya dan kemampuannya mencetak gol, dan berposisi sebagai penyerang tim nasional Perancis and FC Barcelona.
Henry lahir dan tumbuh di Paris dan sejak muda memperlihatkan kemampuan yang sangat potensial. Dia ditemukan oleh AS Monaco pada tahun 1990 dan kemudian langsung bergabung, melakukan debut profesionalnya pada tahun 1994. Pada tahun 1998 Henry dipanggil untuk bergabung dengan tim nasional Perancis, kemudian dia pindah ke klub Italia Juventus. Pada tahun 1999 Henry bergabung dengan klub Britania Raya Arsenal dengan harga 10,5 juta Pound sterling.
Di Arsenal Henry menjadi terkenal sebagai pemain kelas dunia. Walaupun Arsenal awalnya mengalami kesulitan di Liga Inggris, Henry tetap bisa muncul sebagai pencetak gol terbanyak hampir setiap musim. Dibawah mentor dan pelatihnya, Arsène Wenger, Henry menjadi penyerang yang sangat terkenal dan pencetak gol terbanyak di Arsenal, dengan 226 gol. Bersama The Gunners, Henry dua kali memenangkan Liga Inggris dan tiga Piala FA, dua kali dinominasikan sebagai Pemain Terbaik Dunia FIFA, dua kali menjadi PFA Players' Player of the Year dan tiga kali menjadi Football Writers' Association Footballer of the Year. Henry menghabiskan dua musim terakhirnya dengan Arsenal sebagai kapten, dan berhasil memimpin klubnya ke final UEFA Champions League. Pada Juni 2007, setelah delapan tahun di Arsenal, Henry pindah ke FC Barcelona dengan biaya transfer sebesan £16,1 juta.
Henry juga mendapatkan sukses yang serupa di tim nasional Perancis, dengan memenangkan Piala Dunia 1998 dan Euro 2000. Pada Oktober 2007, Henry melewati rekor Michel Platini dengan menjadi pencetak gol terbanyak Perancis. Di luar lapangan, dilatarbelakangi pengalaman pribadinya, Henry aktif menjadi juru bicara anti rasisme di sepak bola. Kesuksesannya membuat Henry menjadi salah satu pemain sepakbola yang paling menjual; Henry sering tampil dalam iklan untuk Nike, Reebok, Renault, dan Gillette.

Masa muda

Henry adalah keturunan Antillen;[2] ayahnya, Antoine, berasal dari Guadeloupe (pulau La Désirade), dan ibunya, Maryse, dari Martinique. Henry lahir dan tumbuh di lingkungan yang keras, di distrik Les Ulis Paris, yang ternyata memiliki fasilitas sepak bola yang bagus.[3] Sejak umur enam tahun Henry sudah menunjukan potensi yang sangat baik, membuatnya dijadikan anggota klub lokal CO Les Ulis oleh Claude Chezelle. Ayahnya lah yang mendorong Henry untuk mengikuti latihan, walaupun Henry kecil tidak begitu tertarik dengan sepak bola.[4] Lima tahun kemudian, Henry bermain dalam pertandingan pertamanya untuk klub tersebut. Henry kemudian bergabung dengan US Palaiseau pada tahun 1989, namun setelah satu tahun, ayahnya bersengketa dengan klub ini, membuatnya pundah keke klub Viry-Châtillon.[2] Pelatihnya di US Palaiseau, Jean-Marie Panza, mengikuti Henry ke klub barunya, dan dikemudian hari menjadi mentornya.[3]

Karier klub

AS Monaco (1992–1998) dan Juventus (1999)

Pada tahun 1990, AS Monaco mengirim pencari bakat Arnold Catalano untuk menonton Henry bertanding. Henry mencetak enam gol dan timnya menang 6–0. Catalano langsung mengajak Henry bergabung dengan Monaco tanpa melalui masa uji coba. Catalano mengusahakan agar Henry mengikuti kursus di akademi elit Clairefontaine, dan walaupun pimpinan akademi enggan menerima Henry karena prestasi sekolahnya yang buruk, Henry diperbolehkan menyelesaikan kursus tersebut, dan kemudian bergabung dengan AS Monaco Arsène Wenger sebagai pemain muda.[4] Pada akhirnya, Henry menandatangani kontrak profesional dengan AS Monaco dan melakukan debutnya pada tahun 1994. Wenger menaruh Henry di sayap kiri karena dia berpendapat bahwa kecepatan, kontrol bola dan skill Henry akan lebih efektif menghadapi bek sayap daripada bek tengah. Pada musim pertamanya dengan Monaco, Henry mencetak tiga gol dalam 18 kali bermain.[2]
Wenger melanjutkan usahanya mencari posisi paling tepat untuk Henry, dan mempertimbangkan bahwa Henry seharusnya bermain sebagai penyerang, namun Wenger masih ragu.[2] Di bawah arahan manajernya, Henry berhasil mendapatkan penghargaan Pemain Perancis Muda Terbaik tahun 1996, dan di musim 1996–97, performa konsistennya membantu klub menjuarai Ligue 1.[4][5] Pada musim 1997–98, Henry berperan besar dalam membawa klubnya ke semi final UEFA Champions League, dan sekaligus membuat rekor baru untuk pemain Perancis dengan mencetak tujuh gol pada kejuaraan tersebut.[2][6] Pada musim ke-tiga, Henry pertama kali bermain untuk tim nasional Perancis, dan menjadi bagian dari tim yang memenangkan Piala Dunia 1998.[2] Henry terus bermain dengan baik di Monaco, dalam lima musimnya bersama klub Perancis ini, Henry mencetak 20 gol liga dalam 105 kali bermain.[5]
Henry meninggalkan Monaco pada Januari 1999, satu tahun sebelum teman dan rekan setimnya, David Trezeguet, dan pindah ke klub Serie A Italia Juventus dengan harga £10,5 juta.[4] Henry bermain sebagai gelandang sayap,[7] tetapi dia tidak efektif melawan disiplin pertahanan Serie A di posisi ini, dan dia hanya mencetak tiga gol dalam 16 kali bermain.[8]

Arsenal (1999–2007)

Henry menjadi kapter setelah pindahnya Patrick Vieira ke Juventus pada tahun 2005.
Pada bulan Agustus 1999, Henry pindah dari Juventus ke Arsenal, dengan biaya transfer £10,5 juta, dan bergabung kembali dengan mantan manajernya, Arsène Wenger.[9] Di Arsenal Henry nantinya akan berkembang menjadi salah satu pemain sepak bola terbaik dunia,[10] dan walau transfer ini tidak jauh dari kontroversi, Wenger yakin bahwa Henry pantas untuk dibeli dengan harga yang dibayarkan.[2] Henry masuk untuk menggantikan sesama penyerang Perancis, Nicolas Anelka, dan Henry langsung dilatih menjadi penyerang oleh Wenger, sebuah langkah yang nantinya membawa banyak berkah. Namun, Henry sempat diragukan kemampuannya dalam sepak bola di Inggris yang cepat dan kasar, ketika dia gagal mencetak gol dalam delapan pertandingan pertamanya.[3] Setelah beberapa bulan yang menyulitkan di Inggris, Henry bahkan mengakui bahwa dia harus "diajarkan ulang mengenai seni menjadi penyerang".[3] Keraguan ini berakhir dengan berhasilnya Henry mencetak 26 gol pada musim 1999–2000 liga Inggris.[11] Arsenal mengakhiri musim di posisi kedua, di belakang Manchester United, dan kalah melawan klub Turki Galatasaray pada final UEFA Cup 2000.[2]
Setelah sukses memenangkan Euro 2000 bersama Perancis, Henry memasuki musim 2000–01 liga Inggris dengan lebih mantap. Walaupun mencetak lebih sedikit gol dan assist dibandingkan musim sebelumnya, musim kedua Henry di Arsenal termasuk sangat baik, dan dia menjadi pencetak gol terbanyak.[9] Dengan salah satu satuan ofensif terbaik di liga Inggris, Arsenal bisa bersaing dengan Manchester United untuk memperebutkan tingkat teratas liga. Namun Henry tetap frustasi karena dia masih belum berhasil membawa Arsenal menjadi juara liga, dan berulang kali menyatakan keinginannya menjadikan Arsenal sebagai klub hebat.[2]
Kesuksesan akhirnya datang pada musim 2001–02. Arsenal menjuarai liga Inggris dengan tujuh poin diatas juara dua Liverpool, serta memenangkan Piala FA dengan mengalahkan Chelsea 2–0.[2] Henry menjadi pencetak gol terbanyak dengan 32 gol, dan memimpin Arsenal untuk pertama kali mendapat double dan piala pertamanya untuk klub.[4][9] Banyak yang berharap Henry akan mengulang kesuksesan ini bersama Perancis pada Piala Dunia 2002, namun secara mengejutkan Perancis tidak lolos pada penyisihan grup.[2]
Musim 2002–03 menjadi lagi-lagi menjadi musim yang produktif untuk Henry, dengan mencetak 42 dan memberikan 23 assist, termasuk luar biasa untuk seorang penyerang.[9] Dengan begitu, Henry kembali memimpin Arsenal untuk memenangkan Piala FA.[12] Pada musim ini, Henry bersaing dengan pemain Manchester United Ruud van Nistelrooy dalam jumlah gol, dan pada akhirnya Henry dikalahkan dengan selisih satu gol.[2] Walau begitu, Henry tetap berhasil mendapatkan penghargaan PFA Players' Player of the Year dan Football Writers' Association Footballer of the Year.[13][14] Henry juga akhirnya mendapatkan pengakuan bahwa dia merupakan salah satu pemain terbaik dunia, dengan mendapatkan penghargaan Pemain Terbaik FIFA tahun 2003.[10] sekarang dia berada di klub NY Red Bulls...

Kontroversi

ketika ia mengontrol bola dengan tangan lalu diberikan ke william gallas dan ditanduk gol saat prancis vs irlandia di kualifikasi piala dunia 2010[
Print Friendly and PDF

Entri Populer

Daftar Blog Saya